Oleh: baytalhikmah | November 8, 2011

Politik Tubuh, Politik Kuasa

*Politik Tubuh, Politik Kuasa *

Perhatikan informasi di sekitar kita bagaimana tubuh perempuan masih
dianggap misteri karena seksualitas dan reproduksinya, dan berkembang
menjadi mitos-mitos baik kecantikannya, seksualitasnya, mulai dari
keperawanan, menstruasi, kehamilan, dan emosinya. Mitos-mitos tersebut
bahkan berkembang dalam mistik, hantu-hantu dalam film-film kita sering
memasukkan kata “perawan”, dan ciri keperempuanan pada hantu-hantu yaitu
berambut panjang, berwajah cantik dan sebagainya. Atau perhatikan
syair-syair puisi maupun lagu, perempuan masih sering diekspresikan sebagai
mahluk yang misterius, tidak terduga perasaannya, mahluk emosional yang
tidak dapat diajak diskusi dan berpikir.

Tentang apakah semua ini?

Apalagi kalau bukan soal tubuh perempuan.

Dalam tradisi, baik secara kultural maupun struktural, tubuh perempuan
masih dianggap sebagai “sesuatu yang lain” dipertanyakan terus menerus
keberadaannya.

Keruwetan ini berawal dari “persepsi tubuh perempuan adalah bukan persepsi
perempuan itu sendiri”, tubuh perempuan menjadi milik pihak lain, celakanya
untuk distigmatisasi, mulai ayat-ayat suci, sampai pornografi. Selain bukan
milik perempuan sendiri, tubuh perempuan bukan semata-mata menjadi
persoalan pribadi, kamar mandi, ruang tidur, dan ruang ganti pakaian. Tubuh
perempuan adalah politik dalam permainan kehidupan, dalam aturan-aturan
moral dan agama. Tubuh perempuan tidak diperkenankan membahas soal otonomi.
Dengan kata lain, tubuh perempuan tidak diperbolehkan diterjemahkan sendiri
oleh pemiliknya, yaitu PEREMPUAN.

Kehidupan selama berabad-abad telah terlanjur diterjemahkan secara tunggal
oleh persepsi laki-laki. Media dan informasi serta produk-produk hukum di
abad 21 ini pun, masih saja menggelar mitos-mitos tubuh perempuan dan laku
dikonsumsi masyarakat. Masih bisa kita temukan peraturan daerah yang
mengeluarkan kebijakan memeriksa keperawanan siswi demi menjawab persoalan
moral. Tidak peduli bahkan secara sains, jelas bahwa keperawanan bukan
sesuatu yang bisa diukur secara fisik (apalagi moral?).

Merry Magdalena seorang mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek
di Sinar Harapan menulis dalam beberapa catatan studi tentang keperawanan
bahwa dokter sekalipun tidak bisa membuktikan keperawanan perempuan.* “*Walau
dengan menggunakan magnifikasi 10 kali lipat, dokter tidak bisa menduga
secara akurat beda antara perawan dan tidak.” Menurutnya tes keperawanan
tidak sesederhana melihat lubang di dalam *hymen*, sebab memang faktanya
akan selalu ada lubang itu, walau pada perawan dan tidak.

Hal yang sama diungkapkan Dr. Rachel Vreeman dari Indiana University and
Carroll, salah satu penulis buku “*Don’t Swallow Your Gum” *mengatakan, pada
kasus dimana darah menstruasi terbentuk, segel itu bisa saja terbuka, atau
adanya problem medis lain.

Begitupula mitos soal perempuan yang menoupase dianggap membuat gairah seks
padam. Anggapan ini dibantah dengan survei yang dilakukan pada tahun 1994,
yang membuktikan bahwa setengah dari perempuan usia 50-an tetap aktif
melakukan hubungan seks beberapa kali sebulan. Gangguan hormonal saat
menoupase memang kadang membuat perempuan tidak *mood*, tapi itu bukan
alasan langsung yang memadamkan gairah seks mereka…
Selengkapnya di :

http://jurnalperempuan.com/2011/11/politik-tubuh-politik-kuasa/

Tabu kah saat kita membicarakan Kesehatan reproduksi dan seksualitas di Pesantren . Jawabanya bisa ya bisa juga tidak? namun dalam realita kehidupan pesantren perbincangan kesehatan reproduksi dan seksualitas masih di anggap tabu. Pengetahuan  dan pemahaman yang minim kadang menjadi salah satu faktor perempuan tercerambah dalam sebuah sistem yang untuk mengekspresikan dirinya dan tak mampu  bersuara akan hak atas tubuh dirinya untuk mendapatkan informasi penting  kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Menggugah kesadaran kritis kesehatan reproduksi dan Seksualitas membuthkan waktu yang tidak singkat, seperti memperbaiki sebuah bangunan tidak serta merta memongkar lalu mengubah, tetapi dengan terus menerus dan berkesinambungan dalam memperbaiki bangunan tersebut. Mengapa hak untuk mendapatakan Informasi begitu sulit perempuan  dalam Ruang Publik???

Segala yang masih di anggap tabu akan informasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas yang jelas dan Real bagi Komunitas Pesantren menjadi keprihatinan Fahmina Institute, Ungkap Dr. H. Marzuki Wahid Selaku Direktur . Oleh karenanya  melalui Program Islam dan Gender, Fahmina Institute mengadakan Pelatihan Kesehatan Reproduksi dan seksualita Lanjutans bagi Santri Pondok Pesantren Se-Wilayah III Cirebon yang di laksanakan selama 3 hari dari Tanggal 26 – 28 Oktober di Hotel Sunyaragi  dan di ikuti oleh Alumni Pelatiahn Kespro angkatan I dan II .

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | Juni 7, 2011

Menilik Kearifan Lokal Terhadap Keberagaman Orentasi Seksual

Oleh : Turisih Widiyowati

Isu-isu Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Gender memang tak asing bagi telingaku karena  seringkali aku mendengarnya ketika aku mengikuti kegiatan baik itu Seminar di Kampus, Pelatihan atau workshop tentang isu-isu ini. Termasuk isu tentang keberagaman orientasi seksual LGBTI (Q) (Lesbian, Gay, Biseksual, Trans Gender, interseksual dan Quer). Meski tak jarang isu tentang LGBTI (Q) ini mendapat penolakan dari kalangan masyarakat. Bahkan streotype (Pelabelan Negatif) dari masyarakat terhadap temen-temen ini. LGBTI (Q) ini di anggap sebagai penyimpangan seks, penyakit sosial, tidak wajar dan banyak sebutan-sebutan yang melecehkan dan anggapan negatif masyarakat terhadap mereka. Pada akhirnya ketika berbicara LGBTI (Q), kita harus sadar bahwa orientasi seksual setiap individu berbeda bukan hanya Hetero Seksual ada juga yang Homo Seksual, biseksual, Trans Gender, Interseskual dan Quer. Orientasi seksual setiap orang berbeda-beda dan itu adalah “ hak setiap individu untuk menentukan pilihan orientasi seksual ”. Ini adalah Hak seksual seseoran dan ini merupakan hasil Konferensi ICPD di Kairo Tahun 1994 dan ini di akui secara Internasional.

Mengenl Orientasi Seksul lebih dalam

Namun agak kaku pemahamanku ketika aku hanya paham soal LGBTIQ dari kulitnya saja. Tanpa mencoba memahami apa saja jaring-jaring orientasi sesksual selain hetero seksual, LGBTI(Q), apa masih ada orientasi seskual selain itu dan disebut?Aku tersentak ketika dan takjub.Ketika di siang yang cukup panas dan membuat ngantuk karena air condisioner (AC) dalam ruangan itu membuat udara panas di luar gedung hotel IBIS yang mentereng tak terasa (30/05/11). Dalam room metting Kerinci tepatnya di Hotel Ibis Slipi Jakarta Barat. Tempat berlangsungnya Pelatihan Seksual, Kesehatan Reproduksi dan Gender yang di adakan Yayasan Mitra Inti.  para aktivis kemanusian dari  berbagai Lembaga swadaya masyrakat (LSM) dan komunitas yang konse dengan isu-isu Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Gender. Terlihat begitu serius dan antusias mengikuti diskusi Seksualitas, Perilaku seksual, orientasi seksual dan identitas Seksual tak terkecuali denganku. Rasa ngantuku hilang mataku terbuka itu, ada hal yng menggelitik dan membuka mataku tentang sebuah realita yang sebenanya ada dalam masyarakat terkait seksual yang terkadang ini masih menjadi momok yang menakutkan dan tabu untuk di berbincangkan.

Meski sering mendengar dan mendiskusikan LGBTI(Q). Namun kali ini, sangat menarik di sesi Seksualitas, identitas seskual, perilaku dan orientasi seskual yang di samaikan Dede Utomo (seorang aktivis Gay Senior dan juga seorang dosen di Unair Malang). Bukan hanya sekedar membahas soal orientasi seksual yang seperti aku tahu Heter seksual dan LBGTI (Q) ini. Ternyata masih ada orientasi seksual lain,yaitu LSL dan PSP. “Ah, sepertinya menarik. Apa itu LSL dan PSP ? LSL yaitu laki-laki berhubungan seksual dengan laki-laki (suka sama laki) namun ini hanya perilaku seksual tidak masuk dalam identitas seksual namun laki-laki ini juga bisa suka sama perempuan atau waria dan Laki-laki ini tidak disebut Homo seksual namun tetap disebut LSL, begitupun dengan PSP (Perempuan suka sama Perempuan). begitu jelas dan gamblang aku mendapat informasi selaiin LGBTIQ ternyata masih ada orang yang orientasi seksual berbeda dan mereka di sebut LSL dan PSP ini. Sungguh keberagam orientasi seksual yang luar biasa. Satu hal yang kemudian menggelitik dalam benakku, bagaimana dalam sudut pandang budaya melihat orientasi seksual ini?

Kearifan Lokal Terhadap Keberagaman Orientasi.

Tak hanya itu aku di bukakan mata pada realita orientasi seksual yang begitu beragam oleh Dede Utomo. Sontak ini merupakan Pengalaman pertama dan baru kali ini au mendengar dan mendapat informasi langsung. Bahwa begitu banyak kekayaan dan kearifan lokal terhadap orientasi seskual, seperti contoh dalam hal memberi nama Lesbi. Ada satu contoh di Sulawesi Selatan di sana ada Ca lalai, ini sebutan untuk Lesbi dan Ca labai untuk Homo seksual, ada juga Waro’ dan Gemblak di Ponorogo. Perlu kita tahu ternyata dalam karya-karya sastra spektarkuler seperti dalam Serat Centini juga menurut Mas Dede banyak menceritakan soal Lesbi dan Homo seksual, Babad Tanah Jawa. Dan yakin masih banyak kearifan-kearifan lokal yang sebenarnya mencatat dan menceritakan yang hubungan perempuan suka perempuan (Lesbi), laki-laki suka sama laki (Homo seskual) memang telah ada sejak dulu. Yang perlu kita pahami adalah bahwa dalam keraifan lokal ini terhadap orientasi seksual itu bukan budaya atau sekedar tradisi bahkan mitos, namun memang benar realitanya memang ada. Rasa-rasanya tak pantas kita sebagai manusia masa kini kemudian memperdebatkan persoalan orientasi seksual bahkan menganggap orang yang berbeda orientasi seksual dengan kita yang sebagian besar Hetero seksual itu penyimpang. Yang kemudian perlu kita tumbuhkan dan tancapkan dalam-dalam di hati kita adalah rasa toleran dan tidak mudah menjust orag lain yang berbeda. Karena Kita memang beragam sejak terlahir di dunia, begitupun dengan Keberagaman orientasi Seksual itu indah. (waallahu’alam bishowaf)

Oleh: baytalhikmah | April 26, 2011

kabar santri tanasul edisi 5

Bersih dan Suci Untuk Menjaga Kesehatan Reproduksi
Siapa Takut!!!!

Sahabat Tanasul, sudahkah Sahabat-sahabat faham dengan makna suci dan bersih? Menurut syari’at islam, bersih dan suci memiliki makna yang berbeda, karena suci belum tentu bersih. Begitupun sebaliknya, bersih belum tentu suci. Tentunya di manapun kita berada, jika kondisi lingkungan sekitar bersih dan suci, maka akan membuat rasa nyaman untuk melakukan segala aktivitas.
Suci adalah sebuah keadaan di mana barang atau tempat tidak terkena najis karena telah disucikan menurut syariat Islam. Sedangkan bersih berarti sesuatu yang tidak dikotori dengan sesuatu yang membuat kotor, baik yang membuat kotor itu suci atau tidak suci.
Bersih, Suci Menurut Medis dan Syariat Islam
Agama islam telah mengajarkan dan dan memerintahkan umatnya agar senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 222, yang artinya : “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci” (QS. Al-Baqarah:222)
Menurut syariat islam, pengertian bersih tidak sama dengan pengertian suci. Sesuatu yang bersih adalah sesuatu yang tidak dikotori oleh sesuatu yang kotor. Baik yang mengotori itu adalah sesuatu yang suci maupun najis. Sedangkan suci adalah sesuatu yang tidak terkena najis atau yang telah disucikan dengan cara yang telah ditentukan oleh syatiat islam, sekalipun sisitu terdapat kotoran yang suci.
Dengan pengertian tersebut di atas, maka sesuatu yang bersih belum pasti suci. Begitu pula sesuatu yang suci belum tentu bersih. Misalnya lantai yang terkena najis dibersihkan dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan syara’, sekalipun kelihatannya bersih, bahkan sampai mengkilap namun masih tetap dihukumi belum suci (mutanajis).
Kesucian termasuk salah satu syarat syahnya melakukan sholat. Karena orang yang hendak sholat, harus suci badan, pakaian da tempat dari najis. Baik najis hukmiyah maupun ainiyah. Najis Hukmiyah adalah najis yang tidak terlihat oleh mata, tidak memiliki bau serta tidak bisa dirasakan oleh lidah. Sedangkan najis ‘ainiyah adalah najis yang bisa dilihat dengan mata, bisa dicium baunya dan bisa dirasakan dengan lidah.
Bersih dan suci ibarat mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Beberapa kasus kesehatan reproduksi di antaranya dikarenakan perilaku yang jorok yang dilakukan oleh individu dan keterbatasan serta minimnya informasi kesehatan reproduksi di Pesantren-pesantren.
Pada kesempatan kali ini, (reporter TANASUL) berkesempatan mengunjungi Ponpes Cadangpinggan Kertasemaya Indramuyu pada (21/2). Para santri akan banyak mengupas mengenai makna suci dan bersih serta kategori-kategorinya. Berikut hasil liputan Tanasul dari beberapa pesantren.
Menurut ahli medis, bersih adalah bebas dari kotoran, tidak bernoda, tidak tercampur dengan unsur zat kimia lain. Sedangkan suci menurut syariat islam adalah tidak terkena najis, bebas dari dosa, noda, kebersihan hati dan diri dari maksiat.
( http://suasana.multiply.com/journal/item/5/ANTARA_BERSIH_DAN_SUCI )

Kebersihan Menjaga Alat Reproduksi
Nah, sahabat Tanasul yang budiman, pengen tahu tips untuk menjada kesehatan reproduksi? Nih, simak yuk selengkapnya.
Alat kelamin merupakan karunuia yang sangat berharga, tentunya menjamin kualitas keharmonisan dalam berumah tangga. So, harus kita rawat dan jaga kesehatannya agar tetap bersih dan terjaga dari bakteri yang mengancam kesehatan alat kelamin.
Untuk kelamin wanita :
1. gunakan celana dalam berbahan katun agar membantu vagina tetap kering.
2. Hindari hubungan seksual (bagi yang sudah menikah) bila anda mengalami tanda-tanda infeksi pada vagina.
3. Banyak makan sayur dan buah untuk mencegah infeksi vagina.
4. Hindari penggunaan bahan kimia pada daerah vagina.
5. Jangan menggaruk organ kewanitaan jika mengalami gatal-gatal atau iritasi.
6. Jaga kebersihan selama mentruasi. Hindari penggunaan pembalut yang beraroma dan mengandung gel, karena dapat menimbulkan iritasi pada vagina. Perhatikan juga penggunaan pembalut yang cocok dengan kita.
7. Menjaga vagina tetap kering dan bersih dengan membasuh menggunakan air bersih.

Untuk Kelamin Pria :
1. Jaga daerah kelamin tetap kering, bersih dan gunakan pakaian longgar.
2. Jangan memakai pakaian basah, seperti pakaian renang dalam jangka waktu yang cukup lama.
3. Cuci dengan bersihketika selesai kencing.
(http://girlycious.com/2010/09/16/tips-menjaga-kesehatan-alat-kelamin/)

Lalu, apa Bersih dan Suci menurut Nyai dan para Santri?
Dalam konteks suci dan bersih kadang kita masih belum bisa membedakannya. Pertanyaannya adalah apakah bersih sudah barang tentu suci atau bahkan sebaliknya? Nah Sahabat Tanasul, suci dan bersih menurut Nyai. Hj. Butet Zainab Al-Huda Nasution Istri dari KH. Sakur Yasin Pondok Pesantren Candang Pinggang Indramayu, bahwa suci dan bersih baginya sangat penting keduanya tak bisa dipisahkan dan sangat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi Perempuan. Contoh kecilnya, ketika kamar mandi santri yang jorok dan tidak dikuras minimal seminggu sekali ini sangat berbahaya karena banyak bakteri dan virus belum lagi bekas kita ketika buang air kecil pasti kadang masih tersisa meski kita tidak sadar.
Nah, ketika kita menggunakan air yang banyak bakterinya maka bakteri masuk ke vagina kita dan ini bisa mengakibatkan kanker serviks, kista dan penyakit-penyakit kelamin lainnya. Makanya kita harus membuka celana dalam ketika mau sholat dan cebok sebelum wudhu karena takut masih ada najis. Begitu penuturan Nyai. Zaenab yang akrab dipanggil sehari-hari di lingkungan Pondok Pesantren Candang Pinggang dan masyarakat. Meskipun dalam Islam ada hadist yang selalu mengajak umat Islam “Bahwa Kebersihan adalah sebagian dari Iman”, namun terkadang ini masih sangat berat dilaksanakan, apalagi soal kebersihan reproduksi yang tidak semua santri mengerti. Hal ini menurutnya bisa di mulai dari Kebersihan kita kamar mandi dan sering mengganti celana dalam karena disini kadang banyak sisa-sisa urine yang mengandung banyak bakteri dan virus,” Yah meski harus menabung uang untuk beli celana dalam yang penting sehat dan mencegah dari berbagai penyakit kelamin”.
Menurut Fanny (22) salah satu alumni pelatihan kespro II yang di adakan Fahmina institute, Menjaga kebersihan alat reproduksi itu sangat penting, karena jika perilaku kita jorok dan tidak merawat alat reproduksi kita dengan baik bisa menyebabkan banyak kuman dan penyakit bersarang pada vagina dan bisa juga kita mudah terkena HIV dan AIDS. Lain halnya dengan Rizqoh (17) Santri Candang Pinggang, menurutnya Suci itu sudah pasti bersih sedangkan bersih belum tentu suci. Ukuran suci kalau ketika berwudhu di air sungai yang keruh itu sudah boleh dan suci, atau kolam yang ukurannya dua kolah juga begitu. Meskipun secara medis belum tentu karena di air yang keruh pastinya masih banyak terdapat bakteri dan kuman apalagi jika kita gunakan untuk keperluan mandi dan cebok pastinya sangat berbahaya kesehatan kesehatan reproduksi kita.
Kebersihan dalam Pesantren menjadi hal yang sangat penting
Selain menjaga alat-alat kelamin agar tetap bersih, suci dan sehat, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebersihan kamar mandi. Sehari-hari kita tidak pernah luput dari peran serta kamar mandi dan WC. Coba hitung hampir berapa kali kita keluar masuk di sana. Mulai dari mandi, buang air kecil/besar, mencuci piring, baju dan sebagainya. Melihat begitu banyak fungsi kamar mandi serta jangan lupa yang menggunakan adalah lebih dari satu santri.
Jujur, kami merasa nyaman di ruangan kamar santri Pesantren Cadangpinggan Indramayu saati liputan. Selain sambutan yang ramah, juga karena tempat yang selalu dijaga kebersihannya sehingga terjaga kesuciannya. Kami sempat melihat-lihat kamar mandi yang digunakan santri sehari-hari. Bersih dan tidak berbau. Pantas saja, karena para santri memang disiplin untuk selalu membersihkan kamar mandi.
Praktek yang bagus, tentu karena dibarengi teori dan pengetahuan yang bagus pulu. Selama ini menurut Nyai Butet, beliau sering memanggil para ahli kesehatan untuk sosialisasi kespro di pesantren Cadangpinggan sebagai salah satu upaya memberi pengetahuan kepasa santri mengenai kespro dan bagaimana cara merawat dan menjaganya agar terhindar dari virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit.
Kebersihan dimulai dari kita sendiri bagaimana memperlakukannya. Tempat mandipun menjadi salah satu faktor yang mendukung seseorang bisa menjaga kesehatannya. Bisa kita rasakan sendiri apa yang terasa jika berada di tempat mandi yang kotor dan banyak sampah? Tentunya ketidaknyamanan dan akhirnya enggan untuk menggunakannya.
Melihat hal tersebut, maka selayaknya para santri harus senantiasa menjaga kebersihan kamar mandi setiap hari. Melalui piket, pengurus bisa membagi kelompok untuk membersihkan kamar mandi setelah selesai menggunakan tentunya. Hal yang perlu dilakukan:
1. Membersihkan kamar mandi dengan menggunakan sikat khusus hingga bersih, sehingga tempat mandi tersebut suci.
2. Memberi pengharum lantai atau porselin
3. Menguras air yang sudah kotor. Missal berapa kali dalam seminggu tergantung bagaimana kesepakatan yang telah dibuat oleh para santri
4. Menyediakan tempat sampah di dalam kamar mandi, hal ini untuk mencegah agar para santri tidak asal membuang sampah yang biasanya dibuang dalam kloset.
5. Membuat peringatan berupa tulisan di dalam kamar mandi.
6. Bersama-sama menjaga kebersihan kamar mandi agar terhindar dari bakteri yang bisa mengganggu kesehatan reproduksi kita.
(Asih & Lili)

Oleh: baytalhikmah | Januari 10, 2011

Calap (catatan lapangan)

Katakan “Tidak!” Untuk Menikah Muda

Fenomena Pernikahan Di Bawa Umur

Kasus menikah muda (menikah di bawah umur), kini kian merebak di masyarakat. Kasus ini mencerminkan belum maksimalnya pemahaman masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi. Pada awal September 2008 lalu, kita melihat sepak terjang Komnas Perlindungan Anak, sejumlah tokoh agama dan LSM berusaha menghentikan rencana Syekh Puji (43) yang hendak menikahi Lutfiana Ulfa (12). Lantas apa sebenarnya yang ditakutkan mereka dari pernikahan dini tersebut? Apa kaitannya dengan kesehatan reproduksi?

Berikut ini salah satu kasus yang terjadi, ibu muda warga Kec. Jatiwangi Kab. Majalengka (10/2) mengungkapkan tentang proses kelahiran anak-anak mereka. Diantaranya Neni (19) yang menikah saat berusia 15 tahun. Neni mengaku, proses kelahiran bayinya harus dilakukan dengan oprasi sesar (Fault) karena bayi yang dikandungnya berada dalam kondisi sungsang. Sedangkan Cicih (20) yang menikah pada usia 16 tahun, ia didiagnosa kandungannya sangat lemah. Alhasil ia melahirkan putranya dalam keadaan prematur yakni umur 7 bulan 11 minggu. Sehingga selama 1 bulan 1 minggu anaknya dioven.

Lain halnya dengan pengakuan Yanti (20) yang menikah pada usia 17 tahun, selama proses persalinan ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk diinfus karena air ketubannya telah kering. Sedangkan seorang ibu yang keberatan disebutkan identitasnya, ia mengaku menikah dan mengandung pada usia 14 tahun. Akan tetapi ia tidak dapat melahirkan bayinya dikarenakan kondisi bayi tersebut meninggal saat masih dalam perut berumur 4 bulan, maka harus dilakukan penyedotan untuk mengeluarkannya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | Desember 30, 2010

Cerita Pengalaman

Pengalaman Perempuan Pengguna Alat Kontrasepsi

Rembug Perempuan Desa

Berbagi Pengalaman Kesehatan Reproduksi

Sofiyah (30 th) warga desa Babakan Ciwaringin. Ibu dua anak ini bekerja sebagai buruh pabrik rotan di Plumbon bersama suaminya, dengan penghasilan yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Pasangan ini sepakat untuk mengikuti program KB (Keluarga Berencana). Hanya Ibu Sofiyah saja yang mengikuti program ini dengan alasan tidak tahu kalau ada KB untuk para Bapak, selain itu juga jika bapaknya ikut KB dengan pertimbangan jika dua-duanya mengikuti KB akan boros juga.

Awam informasi Alat kontrasepsi

Ibu Sofiyah mengikuti KB karena takut nantinya banyak anak. Pasangan ini sadar jika banyak anak mereka bingung akan memberi makan apa?. Ibu Sofiyah ini memakai alat kontrasepsi suntik karena menurut beliau mengikuti program suntik lebih manjur dibandingkan dengan program Pil. Selain itu efek yang ditimbulkan dari minum pil katanya mengakibatkan mual, pusing dan berat badan yang bertambah dan menimbulkan kegemukan. Selain itu juga menggunakan pil kadang suka kebobolan jika lupa minum. Ibu Sofiyah ini merasa cocok dengan kontrasepsi suntik, hanya saja  menurut beliau program suntik ini mengakibatkan haidnya tidak lancar, kadang haidnya sampai dua bulan setengah meskipun selama masa haid itu darahnya tidak keluar dengan lancar. Kadang setelah dua bulan setengah haid, satu minggu masa suci kemudian haid lagi. Pernah akan ganti alat kontrasepsi, tetapi karena tidak tahu tentang alat-alat kontrasepsi, makanya beliau lebih memutuskan untuk tetap mengikuti program suntik ini.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | Desember 13, 2010

News

Anak HIV Tidak Perlu Sekolah Khusus

JAKARTA, KOMPAS.com -  Seorang anak yang dinyatakan positif HIV tidak memerlukan sekolah khusus. Mereka berhak menerima pendidikan di sekolah vyang sama dengan anak negatif HIV.
Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Prof Samsuridjal Djauzi mengatakan, seorang anak positif HIV tidak akan menularkan virus HIV pada teman-temannya di sekolah. “Kenyataan di masyarakat, sudah banyak anak positif HIV yang sekolah di TK, SD, SMP, tidak perlu jadi masalah karena tidak mungkin menularkan pada temannya, misalnya dia menggigit temannya, tidak akan tertular,” katanya dalam diskusi “Sekolah untuk Anak HIV Positif” di Thamrin City, Jakarta, Minggu (12/12/2010).
“Tidak perlu sekolah khusus, saya rasa mereka punya hak sama dengan anak lainnya selama kemampuan fisiknya masih memadai untuk sekolah,” tambah Samsuridjal.
Hanya saja, pada umumnya, kata Samsuridjal, para orangtua tidak mengenali infeksi virus HIV. Sehingga seringkali timbul prasangka berlebih dari orang tua murid jika anaknya satu sekolah dengan anak HIV positif. “Kekhawatiran itu yang harus kita lawan,” kata Samsuridjal.
Jika anak positif dipisahkan sekolahnya dari anak negatif HIV, lanjutnya, maka secara tidak langsung terjadi diskriminasi yang justu makin menjadikan anak HIV sebagai sorotan masyarakat. Yang kemudian akan berdampak buruk pada perkembangan anak.
Samsuridjal juga mengatakan, pihak sekolah yang mendidik anak dengan HIV sebaiknya menjaga rahasia kondisi kesehatan anak tersebut. “Tidak perlu dibuka, jika pihak sekolah mengetahui anak didiknya positif, harus menjaga kerahasiaan anak itu,” katanya.
Dan yang paling penting, pihak sekolah, kata Samsuridjal, tidak boleh melarang anak positif HIV untuk menuntut ilmu di sekolahnya. “Anak HIV positif layak bersekolah di manapun, punya hak berkembang seperti anak biasa,” pungkasnya.

Oleh: baytalhikmah | Agustus 25, 2010

Tips

BEBERAPA TIPS MERAWAT KESEHATAN ORGAN REPRODUKSI


Perempuan Laki-laki
v     Selama haid, menggunakan pembalut wanita untuk menampung darah haid. Pembalut dapat dibeli di toko ataupun dibuat dengan kain bersih.

v      Mengganti pembalut empat jam sekali, atau lebih sering selama masa haid.

v     Setiap kali buang air, siramlah (basuh) alat kelamin dengan air yang bersih atau pengganti air (tissue).

v     Setelah buang air besar,bersihkan alat kelamin dari depan ke belakang, bukan sebaliknya, agar sisa kotoran tidak masuk ke alat  kelamin.

v      Jangan sering menggunakanantiseptik/cairan pembunuh kumanuntuk mencuci alat kelamin,khususnya vagina, karena akan mematikan mikro-organisma yang secara alami dapat melindungi vagina

v     Jangan memakai celana dalam yang terlalu ketat.

v      Mengganti celana dalam dua kali sehari.

v      Gunakan celana dalam yang menyerap keringat.

v     Mandi secara teratur dua kali sehari.

v      Mengganti celana dalam dua kali sehari dan gunakan celana dalam yang menyerap keringat.

v     Membersihkan anus dan penis denganair bersih setiap kali buang air besarmaupun kecil.

v     Sunat dapat mencegah penumpukan kotoran (disebut smegma) di penis

v     Bagi yang belum disunat, kulit penutup penis ditarik kebelakang agar bagian dalam penis dapat dicuci dengan air bersih setiap kali mandi.

v     Tidak menggunakan celana dalam yang ketat. Celana ketat dapat mengganggu stabilitas suhu testis di dalam buah zakar

by : asih

Oleh: baytalhikmah | Agustus 16, 2010

Cerpen Kespro

Rahasia Haid Pertamaku

Oleh: Turisih Widiyowati*


Aku kembali mendapatkan darahku membekas di celana dalamku. Padahal hari ini aku telah berulang kali menggantinya dengan yang baru. Celana dalam yang telah kucuci pagi tadi juga mungkin hampir kering. Sudah dua hari ini aku bersembunyi dari kakek ketika menjelang solat maghrib. Aku memilih bersembunyi dan memisahkan diri.

Melihat tingkahku yang tak biasanya, nenek mulai bertanya-tanya. Tapi aku masih ketakutan untuk mengungkapkan keadaanku yang tengah mengalami haid. Ini adalah haid pertamaku. Dua hari sebelumnya, tepatnya siang hari saat akan mengambil air wudlu sebelum shalat dzuhur, aku terlebih dahulu buang air kecil di kamar mandi. Tapi aku malah dikejutkan dengan bercak darah di celana dalamku. Benar, aku nyaris pingsan. Tapi tidak terjadi. Aku hanya terbengong, sementara tubuhku tak henti-hentinya gemetaran.

Dalam terbengong, aku terus bertanya-tanya. Apakah ini darah? Tapi kenapa ada darah? Darimana datangnya? Mengapa vaginaku berdarah? Aku bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan yang luar biasa takut. Aku benar-benar bingung. Akhirnya aku hanya bisa menangis, karena tak tahu apa yang harus kuperbuat. Tepat setelah sadar, aku bergegas ke kamar. Diam seribu bahasa.

“Jangan-jangan ini haid,” pikirku lagi dalam hati. Tapi aku tetap merasa takut. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi darah ini. Aku juga tak berani menceritakan hal ini kepada Nenek. Dalam satu hari itu aku hanya diam seribu bahasa. Bolak balik ke kamar mandi, sambil sesekali memeriksa apakah darah itu masih ada di sana. Selama ini aku memang tinggal bersama nenek.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | Agustus 10, 2010

Opini

Cara Pandang Seks Remaja Perlu Diarahkan
Jumat, 30 Juli 2010

MEDAN, KOMPAS.com - Cara pandang para remaja terhadap seksualitas perlu diarahkan, agar mereka tidak salah menganggap hal alamiah itu menjadi sebuah aktivitas yang biasa untuk dilakukan bagi kalangan usia muda.
Pengamat kesehatan, dr Tengku Yenni Febrina  di Medan, Jumat, mengatakan, masa remaja merupakan saat fase transisi dari anak-anak menuju dewasa, sehingga pada masa itu mereka membutuhkan perhatian dari orang tua dan sekolah untuk kehidupan sosialisasi pergaulan remaja.
Untuk itu, menurut Yenni, pada masa remaja perlu mendapat bimbingan yang cukup besar dari orang para orang tua.
Sehingga para remaja tersebut tidak akan mudah terpengaruh atau terjurumus dari perbuatan negatif, serta pergaulan bebas yang merugikan masa depan mereka.
“Salah satu pergaulan bebas saat ini yang paling populer adalah menganggap free sex sebagai hal yang biasa untuk dilakukan,” katanya.
Ia menambahkan, untuk menghindari terjadinya salah pengertian para remaja terhadap pergaulan bebas, bahaya serta risiko yang akan dialami jika melakukan hal itu, dan mereka perlu diberikan pendidikan seks yang benar dan jelas.
Ia  mengatakan, cara pandang remaja yang salah terhadap seksualitas, akan memberikan dampak negatif terhadap generasi muda, terlebih tatanan kehidupan sosial nantinya yang disebabkan salah kaprah memahami hal itu.
Bahkan, dengan terjadinya kekeliruan itu, remaja perempuan lebih rentan terhadap berbagai resiko yang akan diderita dari perilaku seksual secara bebas tanpa ikatan agama.
Lebih jauh ia mengatakan, fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, masih banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat terkait pendidikan seks bagi para remaja.
Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.