Oleh: baytalhikmah | Oktober 30, 2009

Multikultarlisme Be United Harmony

Multikultarlisme Be United Harmony

BB ygy

 

Sekitar 30 anak muda dari berbagai daerah dan berlatar belakang berbeda datang di Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan “Anak Muda Multikultaralisme” yang diselenggarakan oleh Yayasan LKIS Yogyakarta. 30 anak muda ini merupakan hasil seleksi panitia LKIS yang di diselenggarakan oleh LKIS. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 21 – 27 oktober 2009 di hotel Satya Graha yogyakarta.salah satu pesertanya yang ikut adalah 2 orang dari Bayt Al-Hikmah Cirebon.

Keragaman peserta yang mengikuti ini, menggambarkan pluralitasnya masyarakat Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi. Namun, akhir-akhir ini bangsa ini sontak mulai di sulut oleh isu-isu etnis,suku, agama yang memunculkan konflik di masyarakat kita. Contoh persolan etnis Tionghoa yang masih dipersulit ketika membuat kartu tanda penduduk, bukan hanya itu panggilan etnis Tinghoa seperti China yang terkadang juga menjadi ejekan di kalangan masyarakat tutur Hun hun anak muda yang mewakili komunitas anak muda Katholik dan berdarah jawa-china.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | Oktober 12, 2009

Base Camp

Base Camp Bayt Al-Hikmah

Base camp, Tak terbayangkan sebelumnya dalm benak teman-teman kelompok diskusi  dibayt al-hikmah ini. mereka di beri satu ruangan berukuran 3×4 meter sebagai tempat mereka ngumpul dan berkespresi. Bagi mereka ruangan ini sangat berarti kendatipun demikian mereka terlihat sangat sumringah dan bahagia .

Mereka tak membuang-buang waktu untuk merapikan dan menata ruangan yang lama tak pernah di ditempati itu. dengan cekatan teman-teman Bayt Al-Hikmah yang saat itu ada 10 orang membersihkan, Mba Mamay selaku PO. Pengkaderan dan pendamping teman-teman Bayt Al-Hikmah ikut larut daam kebahagiaan dalam membersihkanan menata ruangan. (09/10/09)

Ruangan yang tak terlalu besar tersebut rencananya akan digunakan sebagai perpustakaan yang sebagaian besar di dominasi buku-buku yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan buku-buku yang lain juga bertahap gitu..!!!! selain itu bass camp ini juga bisa digunakan sebagai tempat curhat remaja hanya dengan sekat rak sebagai tempat buku-buku didepannya ditaruh kursi sofa supaya teman-teman merasa nyaman di tambah pula kipas angina. Dibalik rak terdapat seperangkat computer sebagai tempat corat-coret dikomputer sebagai benuk ekspresi intelektual.

Semoga dengan adanya bass camp ini forum diskusi ini akan terus istiqomah mengkaji khasanah intelektual dengan berdiskusi dan mengapliksinya dalam bentuk tulisan sebagai bentuk karya untuk anak bangsa. (As)

Oleh: baytalhikmah | September 16, 2009

Catatan akhir Ramadhan

“Bayt Al-Hikmah Buka Puasa Bersama Diakhiri Ramadhan &  Sambut Idul Fitri  1430 ”

DSC01413-bayt2.

Iedul fitri sebentar lagi tiba, hanya tinggal menghitung hari kita akan merayakan hari nan fitri setelah satu bulan penuh kita menahan lapar, haus dan bukan hanya itu tentunya, perilaku juga harus kita jaga selama berpuasa. Rasanya tak ingin cepat-cepat selesai bulan yang penuh berkah dan rahmat ini. Ibadah lain yang tidak kalah seru dibulan ini adalah melaksanakan sholat ‘taraweh’. Ditengah kesibukan orang-orang berakitifitas, ternyata masjid-masjid disetiap pojok kota terlihat selalu saja ramai. Berbagai keutamaan janjikan pun dibulan penuh rahmat ini termasuk juga pada sepeerempat ahir dari bulan puasa dengan adanya ‘Lailatul Qodar’ menjadi harapan bagi setiap orang.

Mengisi Bulan Puasa dengan Mengaji Bersama

Tidak ingin kehilangan moment spesial dibulan Ramadhan, Bayt Al-Hikmah juga mengisi bulan ini dengan kajian keagamaan seperti semaan Al-Qur’an, Marhabanan dan kajian kitab yang diisi oleh teman-teman Bayt Al-Hikmah sendiri.

Diskusi yang dilakukan dibulan Ramadhan dilakukan 3 kali dalam seminggu. Asih mengatakan ‘Diskusi ini dilakukan untuk melatih mentalitas teman-teman Bayt Al-Hikmah untuk bisa aktif dalam forum. Selain melatih mentalitas setiap personilnya, dalam setiap diskusi kita juga dituntut untuk mampu menganalisa sebuah isu tertentu. Khusus dibulan Ramadhan teman-teman Bayt Al-Hikmah mendapat tambahan untuk belajar membaca kitab’.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | September 12, 2009

Berita Ramadhan

“BERHARAP ISTIQOMAH DENGAN TRADISI MARHABANAN

Mencoba belajar Istiqomah mungkin itu yang pantas buat forum diskusi Bayt Al-Hikmah, meksi dengan berbagai aktivitasnya teman-teman Bayt Al-Hikmah sebisa mungkin membagi waktu aktvitas mereka supaya bisa tetap melakukan kajian dan diskusi-diskusi kecil di Bayt Al-Hikmah. Jum’at (11/09/09) senandung Sholawat dan Barjanji bergema di rumah samping kantor Fahmina yang merupakan tempat rutin teman-teman Bayt Al-Hikmah mengadakan berbagai kegiatan baik sebelum dan sesudah Ramadhan ini.

Hiruk pikuk orang diluar sana menyiapakan datangnya hari nan fitri (Idul Fitri) dengan Shopping keberbagai Mall yang berada di kota Cirebon dan teriknya matahari tak menyurutkan semangat mereka. Mereka asyik dengan senandung sholawatan, barjanji dan semaan Al-Qur’an. Makna idul fitri bukan dari baju baru, sandal baru dan lain-lain, akan tetapi bagaimana implentasi perilaku dan sensifitas kita terhadap lingkungan sekitar. Jangan sampai kita senang-senang tetapi tetangga kita kekurangan hingga mereka melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.

Meski marhabanan sekarang tak banyak kita dengar lagi dalam masyarakat, baik di suro-Suro  (Musola) seolah-olah hampir hilang, oleh karenanya Bayt Al-Hikmah di Ramadhan ini berusaha menghidupkan kembali tradisi marhabana yang sarat akan makna kebersamaan dan bentuk kecintaan kita terhadap Nabi Muhammad SAW. Harapan teman-teman Bayt Al-Hikmah marhabanan ini akan terus berjalanan setelah Ramadhan ini usai agar tradisi-tradisi lokal tidak punah “Ungkap Mba Masyitoh disela-sela waktu istrihata”.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | September 10, 2009

Berita Kajian Kitab

Semangat Belajar Menganalisa Kajian Teks Kitab

DSC01081

Tetap Semangat Dalam Terik dan Puasa

Terlihat sekelompok wajah berseri-seri dan penuh semangat bercengkrama dalam ruangan yang sejuk itu. Teman-teman Bayt Al-Hikmah seperti biasa melakukan rutinitas kajian kitab di bulan Suci Ramadhan ini. Sambil menunggu beberapa teman-teman yang masih di perjalanan. Saat itu Asih, Sanusi dan Sofi sejenak mereka merebahkan badan di lantai yang tak beralas, karena cuaca hari itu cukup panas. Seraya merebahkan badan Sanusi berkata “ah, ces…..ademnya” gelak tawa pun bergelar karena ucapan Sanusi yang lucu hingga memecah kesunyian. (08/09/09)

Selang 15 menit kemudian datang dua orang perempuan cantik yang tak kalah semangat dan enerjiknya di forum diskusi Bayt Al-Hikmah yaitu Mba Masyitoh, ibu yang satu ini meski sudah menikah tetapi semangat untuk terus belajar tak pernah surut hingga membuat motivasi tersendiri bagi teman yang lain. “ keren ya”. Bersamaan dengan mbak Masyitoh adalah Neng Lili gadis cantik yang satu ini hebat dan tak kalah semangat dengan mbak Masyitoh. Lili selalu mencuri-curi waktu diantara kesibukannya bekerja di salah satu Mall besar di kota cirebon supaya tetap ikut kajian.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baytalhikmah | September 7, 2009

Menjaga Tradisi Lokal

Ramadhan, Momen Menjaga Tradisi Lokal

DSC01141

Bayt Al-Hikmah sebagai wadah ataupun forum teman-teman remaja baik putra-Putri untuk mengekspresikan potensi yang mereka miliki untuk ikut serta mengisi dan membangun bangsa. Meski fokus utama Bayt Al-Hikmah adalah tentang kesehatan reproduksi remaja, akan tetapi Bayt Al- Hikmah tetap menjaga tradisi-tradisi lokal yaitu seperti marhabanan, semaan Al-Qur’an, kajian kitab Kuning dan lain-lain.

Seperti kajian Ramadhan yang dilakukan Bayt Al- Hikmah sebelumnya, Jumat 01 September 2009. Bayt al Hikmah juga menggelar kegiatan lainnya yaitu mengadakan Marhabanan dan Tadarus Al-qur’an (04/09/09). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 14 orang, meski jumlah tidak terlalu banyak tetapi kegiatan hari itu yang di mulai dengan Marhabanan pukul 09:00 Wib dan dipimpin oleh Azwar anas sebagai pemimpin kegiatan Marhabanan cukup meriah. Hal tersebut dikarenakan jenis lagu Marhabanan bermacam-macam dan dilantunkan oleh peserta dengan lagu sesuai dengan lagu marhabanan daerah asal mereka. Berbedanya cara melagukan marhabanan di Bayt Al-Hikmah membuat suasana marhabanan semakin semangat. Peserta terlihat sangat antusias mengikuti Marhabanan ala Bayt Al-Hikmah ini.

Tak terlihat di raut wajah peserta rasa lelah ataupun kehausan meski mereka melantukan sholawat dan barz

DSC01358

anji dengan suara keras dan mendayu-dayu karena lagu yang dilantunkan. Menurut Dede salah satu peserta kajian yang merupakan salah satu mahasiswa ISIF menuturkan, kegitan seperti ini baru pertama kali ia ikuti, sebelum-belumnya ia tak pernah mengikuti kegitan marhabanan. Kalau pun ada di masjid tempat ia tinggal,  ia memilih tak mengikutinya,  malah pulang, karena kebanyakan bapak-bapak yang ikut tutur Dede dengan wajah berseri-seri .”

Kegiatan terhenti karena waktu sholat Jum’at dan kemudian dilanjutkan dengan Tadarus Al-Qur’An pukul 13:00 Wib. Asih selaku koordinator Bayt al Hikmah menuturkan “bahwa ia berharap dalam bulan Ramadhan ini teman-teman diskusi bisa menghatamkan Al-Qur’an”. Beberapa orang ada yang pulang lebih dahulu karena satu keperluan, meski begitu tak menyurutkan semangat peserta lain untuk tetap melajuntkan kegiatan tadarus Al-Qur’an. Tadarus Al-Qur’an hari itupun mampu menyelesaikan 7 Juz dalam sekali pertemuan sehingga diharapkan pertemuan berikutnya teman-teman bisa hatam semua satu al-Quran (Amin). (As)

Oleh: baytalhikmah | September 3, 2009

Kajian Ramadhan Ala Bayt Al-Hikmah

Kajian Ramadhan Ala Bayt Al- Hikmah

DSC01082

Bulan Ramadhan yang penuh berkah yang sebagaian besar kalangan masyarakat memanfaatkan dengan berbagai kegiatan yang positif. Begitupun teman-teman forum diskusi Bayt Al- Hikmah, tak menyia-nyiakan waktu untuk tetap melakukan diskusi dan kajian. Kali ini tak seperti diskusi biasanya,  kami (pengurus Bayt Al- Hikmah), mengisi kajian bulan Ramadhan dengan kitab Akhlakul Banat dan kursus Bahasa Inggris (01/09/09). Dengan tema dari “Kita Oleh Kita Dan Untuk Kita”, maksudnya diskusi di Bulan Ramadhan ini lebih banyak diisi oleh teman-teman Bayt Al-Hikmah sendiri dengan tujuan belajar menjadi fasilitator, belajar sesasama dan kemandirian.

Kajian kitab dimulai pukul 09:30–11:30 WIB di Fahmina dan diikuti sekitar 10 orang. Memang tak seramai seperti biasa, tetapi itu tak menyurutkan semangat teman-teman dalam mengaji Kitab Akhlakul Banat dengan santai tapi serius. Tak jarang, diskusi juga diiringi celoteh lucu Azwar Anas sebagai pembaca kitabnya membuat teman-teman tertawa. Sehingga suasana terasa hidup ditambah beberapa pertanyaan dan sesekali muncul perdebatan di antara teman-teman sendiri,  seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh Asih. Asih mempersoalkan, apakah anak perempuan shaliha itu hanya yang menurut saja, terus tidak boleh keluar rumah? Bagaimana dengan konteks sekarang?

Menurut Anas, jika kita melihat teks Kitab Akhlakul Banat, “ya” akan tetapi jika dilihat dari perspektif gender ini tidak adil. Karena terjadi pengekangan terhadap perempuan dan hak pelanggar hak perempuan untuk berekspresi, misalnya bekerja malam dan lain-lain. Hal serupa pun diungkapkan oleh Mashitoh bahwa di sini terlihat adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, perempuan juga masih dia anggap sebagai subordinat. Kemudian muncul pertanyaan yang belum sempat terjawab di Forum Diskusi yaitu sebenarnya kitab ini menceritakan tradisi atau aturan agama?

Meski udara di luar ruangan Fahmina begitu menyengat karena terik matahari, tak terlihat sedikitpun keletihan di dalam forum diskusi. Terbukti dengan keinginan mereka yang langsung melanjutkan short course bahasa inggris yang dipandu oleh teman Bayt Al- Hikmah sendiri. Imah misalnya, karena basic jurusan kuliahnya bahasa inggris, mau tidak mau dia yang harus menjadi fasilitator buat teman-temannya yang lain. Menurut Shofi, salah satu teman Bayt Al- Hikmah, menuturkan bahwa bahasa itu sangat penting apalagi Bahasa Inggris di zaman yang modern. (As)

Oleh: baytalhikmah | Agustus 26, 2009

Berita Kespro dalam Persfektif Agama

Bayt Al-Hikmah Bersama Buya Husein Muhammad

DSC01038

Pembahasan tentang perempuan bagi Bayt Al-Hikmah memang sudah menjadi agenda pokok yang harus dituntaskan. Kenapa? karena banyaknya tafsir terhadap teks agama yang dianggap menyudutkan dan menghegemoni. Disamping penafsiran tersebut juga diangap tidak lagi kontekstual dengan keadaan saat ini, khususnya yang mengabaikan  dan tidak mempedulikan hak-hak kaum perempuan.

Bayt Al- Hikmah pada Kamis  (20/8/09), mengahadirkan ulama modern yang sudah tidak asing lagi bagi teman-teman Bayt Al- Hikmah. Yakni KH Husein Muhammad atau  yang akrab disapa Buya. Buya menjelaskan tentang segala hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan kaum perempuan dengan kesehatan reproduksinya. Khususnya yang berkaitan dengan pemahaman masyarakat terhadap teks yang hanya melihat dari konteks jaman dahulu. Yang kemudian melahirkan suatu kebiasaan-kebiasaan, yaitu pemaksaan teks yang ditafsirkan terhadap realitas sekarang. Seperti terjadinya kekerasan yang dibingkai atas nama agama, bahkan memarjinalkan dan menyudutkan posisi perempuan.

“Padahal bukankah agama diturunkan untuk menyelamatkan umat manusia?, menjaga kedamaian dan kesejahteraan serta memenuhi eksistensinya dalam hidup dan kehidupan,” papar Buya. Lebih lanjut, Buya memaparkan, pada akhirnya agamalah yang dipersalahkan. Padahal sesungguhnya kesalahan itu terletak pada bagaimana penafsiran teks yang mengacu jaman beberapa puluh abad yang silam. Karena itu munculah Domestifikasi perempuan salah satunya.

Demikian inti penjelasan dari Buya yang memberikan banyak analisa dan dengan realita. Sementara itu menurut Dewi, salah satu peserta diskusi, diskusi kesehatan reproduksi dipandang dalam perspektif agama sangat penting untuk meluruskan hal-hal yang tabu dan kurang jelas yang dipahami masyarakat secara umum. Teman-teman Bayt Al-Hikmah yang lain juga terpukau dan serius mengikuti diskusi.

Sampai akhirnya pada satu bahasan yang cukup menarik dan menjadi berbincangan remaja, yaitu pacaran. Menurut Buya dalam kitab al-Fiqh al-Islami Wa’adillatu, khittbah yaitu proses saling mengenal (Ta’aruf). Tetapi sebenarnya khittbah sendiri apakah betul sama dengan pacaran? Karena definisi pacaran menurut hasil diskusi teman-teman adalah proses saling mengenal karakter, hobi, cita dan lain-lain. Proses pacaran yang salah kaprah dalam realita remaja sekarang perlu diluruskan bahwa pacaran bukan berarti boleh ciuman. Pelukkan dan sebagainya yang menjerumus terjadinya hubungan seks. Hal ini yang tidak boleh atau dilarang. Kemudian bagaimana dengan hukum bersepi-sepi (kholwa) berdua-berdua di tempat sepi?.

Menurut Buya, memang ada hadits yang mengatakan bahwa “janganlah kamu berdua-dua karena yang ketiganya adalah setan” . Sebenarnya boleh-boleh saja, semua tergantung diri kita masing-masing atau nafsu kita sendiri, karena konteks setan di sini sebernanya diri kita yang mampu mengendalikannya. Sebenarnya masih banyak yang belum didiskusikan, masih ada tema-tema lain yang lebih menarik.  Di antaranya menikah, baligh, melahirkan dan lain-lain. Bersambung….Tunggu ja kelanjutan beritanya…..!!!!! (Masitoh)

Oleh: baytalhikmah | Agustus 12, 2009

Berbagi Pengalaman Advokasi Kesehatan Reproduksi Remaja

DSC01206

Menarik memang ketika kita mencoba membicarakan kesehatan reproduksi. Meski hal ini masih dianggap tabu oleh kalangan masyarakat kita. Ironis, sesuatu yang justru sangat penting bagi kita tetapi terlanjur terkonstruk dalam masyarakat. Hal-hal yang berkaitan dengan reproduksi dianggap oleh sebagian masyarakat kita sebagai sesuatu yang tabu. Ada dua cara pandang kesehatan reproduksi dalam masyarakat yang dominan yaitu Kesehatan Reproduksi sebagai fenomena biologis-medis dan Kesehatan Reproduksi sebagai fenomena relasi-kuasa.

Dalam diskusi pengalaman advokasi kesehatan reproduksi yang diselenggarakan oleh Bayt Al-Hikmah, selasa (28/07) difasilitatori oleh Muchotib, Direktur PKBI Yogyakarta. Ta’rif kesehatan reproduksi adalah Keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial, tidak  sebatas adanya penyakit dan kecacatan, menyangkut semua yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi. Menurut Muchotib, sehat itu merupakan hak bagi setiap orang untuk mendapatkannya informasi maupun akses pelayanan kesehatan reproduksi tanpa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Namun dalam 12 hak kesehatan ini mencakup seluruh hak kita atas kesehatan baik yang hak-hak dasar maupun universal. Selain hak kesehatan reproduksi Bapak Muchotib menjelaskan bahwa kita juga mempunyai hak seksual dalam atas diri kita, ada 10 hak seksual dari semua hak seksual salah satunya hak mendapatkan pendidikan dan informasi.

Realita dalam pemenuhan hak ini masih belum menyetuh masyarakat di grassroot terutama remaja. Remaja yang merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Dunia remaja penuh dengan rasa ingin tahu, penasaran dan lain-lain. Remaja juga sangat rentan dengan persoalan kesehatan reproduksi, misalnya saja gaya pacaran yang terjadi di kalangan remaja saat ini lebih menjurus kepada seks bebas. Hal semacam ini sangat berbahaya bagi perempuan, jika tidak diberikan pendidikan dan informasi mengenai Kespro. Maka yang terjadi adalah semakin meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Di kalangan remaja, aborsi ilegal pun terkadang menjadi sebuah pilihan karena si perempuan belum siap untuk mempunyai anak.

“Di sini kita bisa melihat bahwa perempuanlah yang menjadi obyek kekerasan seksualitas. Bukan hanya itu, stigma masyarakat yang masih patriakat pun menjustis bahwa perempuan ini dianggapnya perempuan binal (nakal),” jelas Muchotib. Pola relasi sosial yang terbangun dalam masyarakat kita, lanjut Muchotib, masih timpang antara perempuan dan laki-laki. Dimana perempuan masih tersubordinat dari laki-laki. Selain budaya patriakat yang mengakar kuat dan mengukung perempuan.

Hasil riset sejumlah data persoalan perempuan yang disampaikan Muchotib menyatakan, setiap tahun diperkirakan 111 juta remaja tertular IMS. Setengah dari kasus baru HIV ada di kalangan remaja dan sekitar 4,4 juta remaja perempuan menjalani aborsi, dimana sebagian besar aborsi dilakukan dengan cara-cara tidak aman. Data lain menyebutkan, 10% dari kelahiran terjadi di kalangan Ibu muda, dengan prosentase kematian pada saat melahirkan lebih tinggi dibanding perempuan yang lebih tua.

Pemenuhan Hak Remaja Sebagai Solusi

Pemenuhan hak bagi remaja untuk meminimalisir kasus-kasus yang terjadi dikalangan remaja. Di antaranya menyediakan pelayanan yang ramah remaja dan mudah diakses tanpa memandang jenis kelamin, status pernikahan dan status keuangan mereka. Memberikan pendidikan seks dan informasi terkini yang mudah diakses remaja. Tak bisa dipungkiri, remaja yang secara aktif melakukan seksual atau tidak dengan keragaman orientalisme seksualnya. Mereka harus mendapatkan informasi yang benar, agar mereka merasa aman dan nyaman atas tubuh dan seksual mereka. Dalam pelatihan ini, Muchotib juga menjelaskan  tentang keragaman orientalisme seksual yang ada ditengah masyarakat kita. Menurut Muchotib,  ada 3 perbedaan orientalisme seksual;  heteroseksul, homoseksual dan biseksual.

Namun bukan hanya itu, setiap remaja juga harus dibekali dengan ketrampilan untuk melakukan negosiasi dalam relasi sosialnya. Hal itu dilakukan agar mereka tidak terdiskritkan dan tidak mendapatkan stigma nakal, termasuk dalam masa pacaran. Seperti melakukan tindakan seks yang lebih aman bagi remaja yang gairah seksualnya aktif, karena itu merupakan kebutuhan biologis setiap orang. Dari pemenuhan hak remaja,  diharapkan akan mengurangi perilaku seks bebas (free sex) di kalangan remaja. Seperti tindakan aborsi legal dan penyakit-penyakit seks seperti IMS san HIV dan AIDS. (Asih)

Oleh: baytalhikmah | Juli 23, 2009

Notulen pelatihan Kespro

Hak-Hak Kesehatan Rerodukpsi

Pemateri : Mba Lies Marcoes (Feminis Islam Indonesia dan Aktifis Perempuan), Mba Nunung (Staf Program Kespro Aisiyah Kendal).

DSC01003

Hak reproduksi dalam kofenan atau dalam undang-undang itu sudah clear dalam artian sudah jelas mana yang menjadi hak perempuan dalam keputusan internasional, akan tetapi dalam tingkatan lokal menjadi terputus dan menjadi salah arti atau salah pengertian. Hal tersebut di ilustrasikan dalam game pembuka dalam diskusi selasa kemaren, yaitu estafet kalimat dari yang mulai orang yang pertama menerima kalimat tersebut kemudian diestafetkan sampai orang yang terakhir, yang sekitar ada 10 orang dan orang yang ke 10 itu menyebutka atau mengulang kalimat yang disampaikan oleh orang yang ke 9 ternyata dibuktikan kalimat yang didengar oleh orang yang pertama dengan orang yang ke 10 itu berbeda, artinya orang yang pertama kalimatnya sesuai atau sempurna sedangkan orang yang ke10 banyak kata yang hilang atau tidak sempurna. Disini dapat difahami orang yang pertama menerima kalimat adalah yang berada di internasional sehingga mendengar secara jelas undang-undang tersebut atau sama précis, yang ke 2-10 itu adalah tingkatan-tingkatan local yang sehingga banyak kalimat yang hilang karena kabanyakan estafet. Dapat ditarik kesimpulanya bahwa banyak orang yang kadang berbeda pemahaman dan pengertian tentang undang-undang hak kesehatan reproduksi.

Hak perempuan atau hak ibu dalam Islam, yaitu terdapat dalam beberapa ayat, yang dinataranya :

  • Hak jaminan keselamatan dan kesehatan ( QS. Al-Baqarah : 228 )

Hamil, melahirkan dan menyusui adalah beban-beban reproduksi yang harus dijaga oleh suami. Yaitu mendapatkan hak tercukupinya gizi, biaya pemeriksaan, melahirkan dengan aman.

  • Hak jaminan kesejahteraan ( QS. Al-Baqarah : 233 )

Kewajiban suami memberikan makan, pakaian dan tempat tidur secara ma’ruf. Memasak atau pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh ibu dalam ayat diatas adalah itu kewajiban suami, sebagai penjabaran sebagai berikut : memberikan nafkah suami kepada istri adalah sama halnya ketika suami memintal benang kemudian menjadi baju yang akan diberikan kepada istri, akan tetapi dizaman sekarang itu tidak mungkin, dengan kepanjangtangan suami akhirnyaa memberikan kepada istrinya berupa uang saja. Suami juga berkewajiban membenahi rumah (beres-beres), jika suami tidak bisa maka suami wajib memberikan pembantu, dan jika tidak mampu juga maka mengerjakan itu semua berkerjasama dengan istri.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori