Oleh: baytalhikmah | Agustus 16, 2010

Cerpen Kespro

Rahasia Haid Pertamaku

Oleh: Turisih Widiyowati*


Aku kembali mendapatkan darahku membekas di celana dalamku. Padahal hari ini aku telah berulang kali menggantinya dengan yang baru. Celana dalam yang telah kucuci pagi tadi juga mungkin hampir kering. Sudah dua hari ini aku bersembunyi dari kakek ketika menjelang solat maghrib. Aku memilih bersembunyi dan memisahkan diri.

Melihat tingkahku yang tak biasanya, nenek mulai bertanya-tanya. Tapi aku masih ketakutan untuk mengungkapkan keadaanku yang tengah mengalami haid. Ini adalah haid pertamaku. Dua hari sebelumnya, tepatnya siang hari saat akan mengambil air wudlu sebelum shalat dzuhur, aku terlebih dahulu buang air kecil di kamar mandi. Tapi aku malah dikejutkan dengan bercak darah di celana dalamku. Benar, aku nyaris pingsan. Tapi tidak terjadi. Aku hanya terbengong, sementara tubuhku tak henti-hentinya gemetaran.

Dalam terbengong, aku terus bertanya-tanya. Apakah ini darah? Tapi kenapa ada darah? Darimana datangnya? Mengapa vaginaku berdarah? Aku bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan yang luar biasa takut. Aku benar-benar bingung. Akhirnya aku hanya bisa menangis, karena tak tahu apa yang harus kuperbuat. Tepat setelah sadar, aku bergegas ke kamar. Diam seribu bahasa.

“Jangan-jangan ini haid,” pikirku lagi dalam hati. Tapi aku tetap merasa takut. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi darah ini. Aku juga tak berani menceritakan hal ini kepada Nenek. Dalam satu hari itu aku hanya diam seribu bahasa. Bolak balik ke kamar mandi, sambil sesekali memeriksa apakah darah itu masih ada di sana. Selama ini aku memang tinggal bersama nenek.

Nenek terbiasa menyapaku “Yasih”, sedikit nyambung dengan “Kurniyasih”, nama panjangku. Kebetulan di keluarga bapakku, nenek mendapat jatah untuk merawatku. Dukuh Pandansari adalah sebuah dukuh di Desa Kaliwangi, tempat di mana aku dilahirkan dan menghabiskan masa kecilku. Tepatnya terletak di penghujung pantai utara Kecamatan Brebes Jawa Tengah. Meskipun kehidupan penduduknya terbilang sangat miskin, tapi aku tetap jatuh cinta dengan desaku yang tandus itu. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan dan petani tambak.

Masyarakat di desaku jarang yang mampu mengeyam pendidikan. Hanya beberapa dari mereka yang sempat menginjak pendidikan sekolah dasar (SD). Karena memang pengahasilan mereka hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa hari, bahkan terkadang itupun tak cukup. Termasuk keluarga bapak dan ibuku. Mereka bahkan nyaris buta huruf. Mungkin karena itu pula, ibuku tak tahu bagaimana melakukan pengaturan kehamilannya.

Alhasil ibuku tak ikut program keluarga berencana (KB) atau menggunakan cara lainnnya untuk melakukan perencanaan kehamilannya. Ibuku mempunyai 14 anak, termasuk aku. Dapat dibayangkan betapa repotnya ibuku. Melahirkan dan membesarkan 14 anak tanpa pembantu. Tentu ini sangat menyulitkannya. Untuk mengatasi kesulitan itu, beberapa dari kami diasuh oleh nenek dan kakek, termasuk aku. Itulah mengapa dari awal aku lebih banyak bercerita tentang nenekku.

Menurut cerita nenek, aku diambil dari ibuku ketika berumur dua tahun. Sejak itu, meskipun rumah ibuku tak terlalu jauh dari rumah nenekku, aku menjadi bagian dari kehidupan nenek dan kakek. Mereka adalah orang tua tempatku bertanya tentang banyak hal, termasuk hal-hal yang sangat pribadi. Saat aku kecil aku sering diajak kakek dan nenek belajar berkebun dan mencari ikan di tambak.

Bahkan tak jarang aku diajak pergi ke laut yang jaraknya hanya sekitar 1 jam berjalan kaki. Sempat terlintas dalam benakku, kenapa saat itu aku harus ikut mereka? Padahal rumah kedua orang tuaku tak jauh. Tapi tanya itu hanya berhenti di kepalaku. Kehidupan bersama nenek dan kakek mengalir begitu saja.

Selainku, ada sepupuku yang juga tinggal di rumah nenek. Namanya Umi, anak dari bulikku. Usianya sebaya denganku, 12 tahun, dan masih sama-sama duduk di bangku SD. Namun aku masih belum bisa mengungkapkan rahasiaku. Rahasia haid pertamaku. Tapi sepertinya Umi telah mengetahuinya dari nenek yang diam-diam juga mengetahui.

Melihat kecemasanku, Umi hanya tertawa. “Jangan takut, itu namanya haid. Aku juga udah dapet kok,” tukasnya sambil sesekali tangannya memegang kedua tanganku, seakan menguatkanku.

Diam-diam aku merasa lega bahwa ini darah yang normal, darah yang keluar dari seorang perempuan yang mulai beranjak remaja. Ketika Umi tak ada, aku memang diterpa rasa takut dan cemas lagi, tapi setidaknya aku faham apa yang harus aku perbuat. Yang masih kutakutkan adalah bagaimana ketika orang lain tahu bahwa aku haid? Aku malu kalau diketahui bahwa aku sedang haid.

Aku takut darahnya akan melekat di baju, dan aku akan diolok-olok teman sekelas. Aku takut nenek dan kakek tahu bahwa aku sudah haid. Sampai bulan-bulan berikutnya, aku tetap menjalankan shalat, terutama bila shalat berjamaah dengan kakek dan nenek. Meskipun aku tahu bahwa perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan shalat dan puasa, aku tetap menjalankannya karena takut ketahuan bahwa aku telah haid.

Pokoknya aku tidak mau orang tahu bahwa aku tengah mendapatkan haid. Meskipun terkadang aku mampir ke rumah ibu, namun ibu tak pernah bertanya. Karenanya aku tetap merahasiakan peristiwa bulanan ini. Kecemasanku aku simpan sendiri. Aku juga sadar, kondisi keluargaku membuat ibu tak bisa memberikan perhatian padaku. Apalagi pada saat itu ibu harus merawat ke-4 adik-adikku yang masih kecil. Jadi rahasia haid pertamaku tetap menjadi rahasiaku.

*Tursih Widyawati adalah salah satu aktifis Bayt al-Hikmah yang telah lama aktif mensosialisasikan tentang isu kesehatan reproduksi (Kespro). Sosok yang dikenal ulet, tulus dan penyayang, ini juga tengah menyelesaikan buku pertamanya tentang Kespro yang ditulis bersama tim Bayt al-Hikmah.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.