Menilik Kearifan Lokal Terhadap Keberagaman Orentasi Seksual
Oleh : Turisih Widiyowati
Isu-isu Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Gender memang tak asing bagi telingaku karena seringkali aku mendengarnya ketika aku mengikuti kegiatan baik itu Seminar di Kampus, Pelatihan atau workshop tentang isu-isu ini. Termasuk isu tentang keberagaman orientasi seksual LGBTI (Q) (Lesbian, Gay, Biseksual, Trans Gender, interseksual dan Quer). Meski tak jarang isu tentang LGBTI (Q) ini mendapat penolakan dari kalangan masyarakat. Bahkan streotype (Pelabelan Negatif) dari masyarakat terhadap temen-temen ini. LGBTI (Q) ini di anggap sebagai penyimpangan seks, penyakit sosial, tidak wajar dan banyak sebutan-sebutan yang melecehkan dan anggapan negatif masyarakat terhadap mereka. Pada akhirnya ketika berbicara LGBTI (Q), kita harus sadar bahwa orientasi seksual setiap individu berbeda bukan hanya Hetero Seksual ada juga yang Homo Seksual, biseksual, Trans Gender, Interseskual dan Quer. Orientasi seksual setiap orang berbeda-beda dan itu adalah “ hak setiap individu untuk menentukan pilihan orientasi seksual ”. Ini adalah Hak seksual seseoran dan ini merupakan hasil Konferensi ICPD di Kairo Tahun 1994 dan ini di akui secara Internasional.
Mengenl Orientasi Seksul lebih dalam
Namun agak kaku pemahamanku ketika aku hanya paham soal LGBTIQ dari kulitnya saja. Tanpa mencoba memahami apa saja jaring-jaring orientasi sesksual selain hetero seksual, LGBTI(Q), apa masih ada orientasi seskual selain itu dan disebut?Aku tersentak ketika dan takjub.Ketika di siang yang cukup panas dan membuat ngantuk karena air condisioner (AC) dalam ruangan itu membuat udara panas di luar gedung hotel IBIS yang mentereng tak terasa (30/05/11). Dalam room metting Kerinci tepatnya di Hotel Ibis Slipi Jakarta Barat. Tempat berlangsungnya Pelatihan Seksual, Kesehatan Reproduksi dan Gender yang di adakan Yayasan Mitra Inti. para aktivis kemanusian dari berbagai Lembaga swadaya masyrakat (LSM) dan komunitas yang konse dengan isu-isu Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Gender. Terlihat begitu serius dan antusias mengikuti diskusi Seksualitas, Perilaku seksual, orientasi seksual dan identitas Seksual tak terkecuali denganku. Rasa ngantuku hilang mataku terbuka itu, ada hal yng menggelitik dan membuka mataku tentang sebuah realita yang sebenanya ada dalam masyarakat terkait seksual yang terkadang ini masih menjadi momok yang menakutkan dan tabu untuk di berbincangkan.
Meski sering mendengar dan mendiskusikan LGBTI(Q). Namun kali ini, sangat menarik di sesi Seksualitas, identitas seskual, perilaku dan orientasi seskual yang di samaikan Dede Utomo (seorang aktivis Gay Senior dan juga seorang dosen di Unair Malang). Bukan hanya sekedar membahas soal orientasi seksual yang seperti aku tahu Heter seksual dan LBGTI (Q) ini. Ternyata masih ada orientasi seksual lain,yaitu LSL dan PSP. “Ah, sepertinya menarik. Apa itu LSL dan PSP ? LSL yaitu laki-laki berhubungan seksual dengan laki-laki (suka sama laki) namun ini hanya perilaku seksual tidak masuk dalam identitas seksual namun laki-laki ini juga bisa suka sama perempuan atau waria dan Laki-laki ini tidak disebut Homo seksual namun tetap disebut LSL, begitupun dengan PSP (Perempuan suka sama Perempuan). begitu jelas dan gamblang aku mendapat informasi selaiin LGBTIQ ternyata masih ada orang yang orientasi seksual berbeda dan mereka di sebut LSL dan PSP ini. Sungguh keberagam orientasi seksual yang luar biasa. Satu hal yang kemudian menggelitik dalam benakku, bagaimana dalam sudut pandang budaya melihat orientasi seksual ini?
Kearifan Lokal Terhadap Keberagaman Orientasi.
Tak hanya itu aku di bukakan mata pada realita orientasi seksual yang begitu beragam oleh Dede Utomo. Sontak ini merupakan Pengalaman pertama dan baru kali ini au mendengar dan mendapat informasi langsung. Bahwa begitu banyak kekayaan dan kearifan lokal terhadap orientasi seskual, seperti contoh dalam hal memberi nama Lesbi. Ada satu contoh di Sulawesi Selatan di sana ada Ca lalai, ini sebutan untuk Lesbi dan Ca labai untuk Homo seksual, ada juga Waro’ dan Gemblak di Ponorogo. Perlu kita tahu ternyata dalam karya-karya sastra spektarkuler seperti dalam Serat Centini juga menurut Mas Dede banyak menceritakan soal Lesbi dan Homo seksual, Babad Tanah Jawa. Dan yakin masih banyak kearifan-kearifan lokal yang sebenarnya mencatat dan menceritakan yang hubungan perempuan suka perempuan (Lesbi), laki-laki suka sama laki (Homo seskual) memang telah ada sejak dulu. Yang perlu kita pahami adalah bahwa dalam keraifan lokal ini terhadap orientasi seksual itu bukan budaya atau sekedar tradisi bahkan mitos, namun memang benar realitanya memang ada. Rasa-rasanya tak pantas kita sebagai manusia masa kini kemudian memperdebatkan persoalan orientasi seksual bahkan menganggap orang yang berbeda orientasi seksual dengan kita yang sebagian besar Hetero seksual itu penyimpang. Yang kemudian perlu kita tumbuhkan dan tancapkan dalam-dalam di hati kita adalah rasa toleran dan tidak mudah menjust orag lain yang berbeda. Karena Kita memang beragam sejak terlahir di dunia, begitupun dengan Keberagaman orientasi Seksual itu indah. (waallahu’alam bishowaf)
