Tabu kah saat kita membicarakan Kesehatan reproduksi dan seksualitas di Pesantren . Jawabanya bisa ya bisa juga tidak? namun dalam realita kehidupan pesantren perbincangan kesehatan reproduksi dan seksualitas masih di anggap tabu. Pengetahuan dan pemahaman yang minim kadang menjadi salah satu faktor perempuan tercerambah dalam sebuah sistem yang untuk mengekspresikan dirinya dan tak mampu bersuara akan hak atas tubuh dirinya untuk mendapatkan informasi penting kesehatan reproduksi dan seksualitas.
Menggugah kesadaran kritis kesehatan reproduksi dan Seksualitas membuthkan waktu yang tidak singkat, seperti memperbaiki sebuah bangunan tidak serta merta memongkar lalu mengubah, tetapi dengan terus menerus dan berkesinambungan dalam memperbaiki bangunan tersebut. Mengapa hak untuk mendapatakan Informasi begitu sulit perempuan dalam Ruang Publik???
Segala yang masih di anggap tabu akan informasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas yang jelas dan Real bagi Komunitas Pesantren menjadi keprihatinan Fahmina Institute, Ungkap Dr. H. Marzuki Wahid Selaku Direktur . Oleh karenanya melalui Program Islam dan Gender, Fahmina Institute mengadakan Pelatihan Kesehatan Reproduksi dan seksualita Lanjutans bagi Santri Pondok Pesantren Se-Wilayah III Cirebon yang di laksanakan selama 3 hari dari Tanggal 26 – 28 Oktober di Hotel Sunyaragi dan di ikuti oleh Alumni Pelatiahn Kespro angkatan I dan II .
Tujuan dari Pelatihan Kespro Lanjutan ini sebagai Upaya meningkatkan kapasitas alumni agar mentransformasikan pengetahuan kritis yang didapatnya selama pelatihan kepada para santri di Pesantrennya masing-masing secara memadai, dan tentunya saja dengan penegtahuan kesehatan reproduksi danSeksualitas yang lebih mendalam, baik di sampaikan ketika proses ngaji maupun menyediakan waktu khusus untuk menyampaikan infomasi tersebut, misalnya daam halaqoh bersama santri. Ungkap Alifatul Arifiati (Staff Islam dan Gender).
Hasrat Seksual santri
Peserta pelatihan terlihat sangat antusias dalam mengikuti pelatihan kespro, meski lebih banyak di dominasi Santri Perempuan 24 orang dan hanya 3 orang santri Laki-laki. Tak terlihat ketabuan dalam proses pelatihan. Lontaran pendapat dan share terdengar gamlang dan jelas saat Presentasi kelompok dengan materi SRHR ( Sexuality, Reproductive, Health & Rights) Bersama Ninuk Widiyantoro dari YPKP Jakarta. Anis (18th) salah satu peserta utusan Pondok Pesantren di Cirebon mengungkapkan bahwa Hasrat seksualitas santri perempuan di pesantrennya juga beragam ada yang berhasrat sesama jenis bukan hanya lawan jenis tuturnya. Bahkan itu pernah ada di Pesantren yang dia sekitar tahun 2000, baginya menyebutkan organ Reproduksi seperti Vagina, itu biasa karena itu milik kita sendiri ungkapnya. Setiap manusia mempunyi hasrat seksualitas yan berbeda-beda dan itu ada dalam realita kehidupan kita baik di luar pesantren maupun di dalam Pesantren. Semua itu Hak masing-masing Individu, oleh karenanya kita harus menjaga Kesehatan organ reproduksi kita agar tidak terkena penyakit Infeksi menular Seksual (IMS) yang berangkat dari Perilaku hidup kita yang jorok. Ungkap Ninuk Widiyantoro. (Asih)