Oleh: baytalhikmah | November 8, 2011

Politik Tubuh, Politik Kuasa

*Politik Tubuh, Politik Kuasa *

Perhatikan informasi di sekitar kita bagaimana tubuh perempuan masih
dianggap misteri karena seksualitas dan reproduksinya, dan berkembang
menjadi mitos-mitos baik kecantikannya, seksualitasnya, mulai dari
keperawanan, menstruasi, kehamilan, dan emosinya. Mitos-mitos tersebut
bahkan berkembang dalam mistik, hantu-hantu dalam film-film kita sering
memasukkan kata “perawan”, dan ciri keperempuanan pada hantu-hantu yaitu
berambut panjang, berwajah cantik dan sebagainya. Atau perhatikan
syair-syair puisi maupun lagu, perempuan masih sering diekspresikan sebagai
mahluk yang misterius, tidak terduga perasaannya, mahluk emosional yang
tidak dapat diajak diskusi dan berpikir.

Tentang apakah semua ini?

Apalagi kalau bukan soal tubuh perempuan.

Dalam tradisi, baik secara kultural maupun struktural, tubuh perempuan
masih dianggap sebagai “sesuatu yang lain” dipertanyakan terus menerus
keberadaannya.

Keruwetan ini berawal dari “persepsi tubuh perempuan adalah bukan persepsi
perempuan itu sendiri”, tubuh perempuan menjadi milik pihak lain, celakanya
untuk distigmatisasi, mulai ayat-ayat suci, sampai pornografi. Selain bukan
milik perempuan sendiri, tubuh perempuan bukan semata-mata menjadi
persoalan pribadi, kamar mandi, ruang tidur, dan ruang ganti pakaian. Tubuh
perempuan adalah politik dalam permainan kehidupan, dalam aturan-aturan
moral dan agama. Tubuh perempuan tidak diperkenankan membahas soal otonomi.
Dengan kata lain, tubuh perempuan tidak diperbolehkan diterjemahkan sendiri
oleh pemiliknya, yaitu PEREMPUAN.

Kehidupan selama berabad-abad telah terlanjur diterjemahkan secara tunggal
oleh persepsi laki-laki. Media dan informasi serta produk-produk hukum di
abad 21 ini pun, masih saja menggelar mitos-mitos tubuh perempuan dan laku
dikonsumsi masyarakat. Masih bisa kita temukan peraturan daerah yang
mengeluarkan kebijakan memeriksa keperawanan siswi demi menjawab persoalan
moral. Tidak peduli bahkan secara sains, jelas bahwa keperawanan bukan
sesuatu yang bisa diukur secara fisik (apalagi moral?).

Merry Magdalena seorang mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek
di Sinar Harapan menulis dalam beberapa catatan studi tentang keperawanan
bahwa dokter sekalipun tidak bisa membuktikan keperawanan perempuan.* “*Walau
dengan menggunakan magnifikasi 10 kali lipat, dokter tidak bisa menduga
secara akurat beda antara perawan dan tidak.” Menurutnya tes keperawanan
tidak sesederhana melihat lubang di dalam *hymen*, sebab memang faktanya
akan selalu ada lubang itu, walau pada perawan dan tidak.

Hal yang sama diungkapkan Dr. Rachel Vreeman dari Indiana University and
Carroll, salah satu penulis buku “*Don’t Swallow Your Gum” *mengatakan, pada
kasus dimana darah menstruasi terbentuk, segel itu bisa saja terbuka, atau
adanya problem medis lain.

Begitupula mitos soal perempuan yang menoupase dianggap membuat gairah seks
padam. Anggapan ini dibantah dengan survei yang dilakukan pada tahun 1994,
yang membuktikan bahwa setengah dari perempuan usia 50-an tetap aktif
melakukan hubungan seks beberapa kali sebulan. Gangguan hormonal saat
menoupase memang kadang membuat perempuan tidak *mood*, tapi itu bukan
alasan langsung yang memadamkan gairah seks mereka…
Selengkapnya di :

http://jurnalperempuan.com/2011/11/politik-tubuh-politik-kuasa/


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.